SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG

( HIKMAH ) SHALAT SEBAGAI SARANA PENOLONG - Rasulullah saw selalu menjadikan shalat sebagai solusi berbagai masalah seperti yang kita baca dalam berbagai riwayat. Hudzaifa bin Al Yaman menceritakan, “Jika Rasulullah saw ditimpa sebuah kesulitan beliau bersegera melaksanakan shalat.” Begitu juga yang diriwayatkan oleh Haritsah bin Madhrib, Aku mendengar Ali ra. berkata, ‘Kamu melihat kami dan segala keadaan kami pada malam perang Badar kecuali Rasulullah saw, beliau mengerjakan shalat dan berdo’a hingga datang waktu subuh.’”

Sering kali jika seseorang sakit dia seolah-olah ada alasan untuk tidak shalat. Padahal bila sebisanya diusahakan sesuai kemampuan, sesuai syarat2 Shalat Insya Allah akan meringankan bebannya dan penyakitnya

Ada banyak waktu dimana kita bisa selalu berinteraksi dengan Allah, melalui shalat 5 waktu yang wajib belum shalat sunnahnya. Bagaimana mungkin Allah akan meninggalkan hamba yang selalu mengingatnya. Ketika kita memohon ampun seperti itulah kita harus bersedia sebenarnya menempatkan diri kita sebagai benar-benar seorang hamba.

Allah SWT Berfirman. "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS Al Baqarah:45-46)

Bukan sembarang shalat yg akan menjadi penolong kita. Dalam ayat tersebut, disebutkan bahwa orang yg bisa menjadikan shabar dan shalat sbg penolong ialah mereka yang khusyu’. Tidak ada ukuran baku dalam shalat khusyu’, oleh karena itu kembali kita meminta kepada Allah SWT agar menjadikan shalat kita dengan khusyu’.

Shalat yang khusyu adalah shalat yang dikerjakan dalam nuansa harap, cemas, dan cinta, serta dengan takbir yang sempurna, lantunan ayat yang tartil, ruku’ dengan tawadhu, sujud dengan diliputi kerendahan hati dan keikhlasan. Tentu tidak lupa harus sesuai dengan syariat.

Shalat adalah sebagai penghubung rasa penghambaan kita kepada Allah, sejatinya Shalat sebagai Tiang yang menyangga nilai2 Keislaman pada diri kita.

Berusaha yang terbaik sbg seorang hamba itulah yg menjadi fikirannya saban hari, karena saat shalatnya bertakbir Allahuakbarnya beneran diamalin dikehidupan keseharian, Subhanallah dalam sujudnya juga beneran dia mensakralkan nilai2 Islam, gak ada celaan sama hukum2 Allah, melihat ayat dan hadist langsung diresapi, diterima dan diusahakan diamalin, maka Insya Allah itulah rata2 seorang hamba yg berhasil Shalat, ya seperti para Shohabat Rasulullah SAW, Tabiin dimana didalam Quran memuji mereka sekaligus petunjuk kita dalam mengamalkan Islam

Hari esok adalah ghaib, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok, bisa saja esoklah datangnya kemudahan tersebut. Jadi selalu ada harapan di hari esok. Justru jika kita tidak memiliki harapan di hari esok, artinya kita sudah sok mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kita menganggap esok hari akan seperti ini saja, maka sama artinya kita mendahului ketentuan Allah SWT. Allahlah yang
menentukan hari esok akan seperti apa, dan kita memang tidak diberitahu. Bisa saja besok hidup kita lebih baik. Besok, selalu ada harapan untuk kita. Begitu juga dengan rezeki, mungkin saat ini begitu sulit karena akan ada kemudahan setelah ini. Jangan sampai kita menyerah dengan cara tidak mau mencari rezeki yang lebih besar karena takut kehilangan rezeki yang sudah ada.

Ada juga yang berharap kepada orang dengan cara menjilat dan merendahkan diri dihadapan orang lain. Allah sudah menyiapkan rezeki bagi kita, jadi meskipun saat ini serasa sulit, sebenarnya sudah Allah siapkan untuk kita, maka tambahlah infaq sedekah, ibadah2 lain semampunya, lalu tambah doa, memperbaiki pula semua kekurangan, dakwah ikutin sunnah Nabi dan Walinya yg doanya hebat2 berkat izin Allah Swt, itulah yang lebih jaminan dibanding apa yang ada didunia yang serba gak jamin. Binatang aja dijamin, apalagi manusia yang punya akal, fikiran, dan keyakinan di jalan-Nya,

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempatpenyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).(QS. Huud:6).

https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10150949835391840&id=109056501839

Posting Komentar

0 Komentar