Air Terjun Sri Gethuk,

Menikmati Canyoning di Air Terjun Sri Gethuk, Gunung Kidul


1323749672997342339

air terjun Sri Gethuk (foto dok.pribadi)

Seharusnya Jum’at malam tanggal 10 Desember kemarin saya ikut berangkat bersama kompasianers asal Jogja atau anak Canting lainnya ke Jakarta untuk menghadiri acara Kompasianival seperti yang sudah direncanakan sebelumnya. Akan tetapi karena satu hal akhirnya saya membatalkan keikutsertaan saya. Saya bukan satu-satunya anak Canting yang tidak bisa ikut berangkat menghadiri pesta ulang tahun Kompasiana yang ketiga ini. Tidak ingin hanya berdiam diri di akhir pekan dan membayangkan anak-anak Canting lainnya berkumpul dan bersenang-senang di ibu kota, saya dan seorang anak Canting lainnya memutuskan bertualang ke Air Terjun Sri Gethuk, Gunung Kidul untuk mencoba canyoning.

Menurut Wikipedia canyoning diartikan seperti ini: canyoning (known as canyoneering in the U.S.) is traveling in canyons using a variety of techniques that may include other outdoor activities such as walking, scrambling, climbing, jumping, abseiling, and/or swimming. Jika dalam Bahasa Indonesia artinya sendiri kurang lebih seperti ini, perjalanan di lembah menggunakan berbagai teknik yang dapat mencakup kegiatan outdoor lainnya seperti berjalan kaki, scrambling, memanjat, melompat, abseiling (menuruni bukit dengan tali), dan / atau berenang. Tapi bagi kami rasanya pendefinisian itu terlalu keren. Ini adalah canyoning versi kami sendiri.

Memanfaatkan momen gerhana bulan total pada hari Sabtu yang diperkirakan akan terjadi antara pukul 21.06 sampai 21.57 atau sekitar 51 menit, kami berencana berangkat dari Jogja pukul 15.00. Peralatan sudah kami siapkan sehari sebelumnya. Hampir semua peralatan yang kami butuhkan untuk petualangan kali ini adalah pinjaman, kecuali tenda yang kami sewa dari persewaan alat-alat kemping. Ada tali karmantel, carabiner, harnes, matras, figure 8, kompor, panci dan lain-lain yang kami jejalkan ke carrier. Tidak lupa tentunya kebutuhan logistik alias makanan, mulai dari beras, roti, mie instan, sarden, kopi juga air putih. Satu lagi yang tidak kalah penting dari bawaan kami adalah kamera. Tentu masih dengan mengandalkan kamera pinjaman.

Air Terjun Sri gethuk sendiri berada di desa Bleberan, Kecamatan Playen, Gunung Kidul dengan ketinggian mencapai 30 meter dan terletak di pinggir Sungai Oya. Sekitar 1,5 jam perjalanan dengan sepeda motor ke arah tenggara dari Jogja. Sepeda motor kami semakin melambat saat memasuki perkampungan. Setelah melepas senja nan elok di perkebunan kayu putih jalanan menjadi gelap. Aspal yang berlubang-lubang bahkan kemudian hanya jalanan batu membuat kami harus waspada. Hampir semua rumah penduduk sudah tertutup pintunya. Penerangan kecil di depan teras tidak membantu. Kami hanya mengandalkan lampu depan sepeda motor juga insting. Sepi. Hanya suara kodok dan binatang-binatang malam yang terdengar memonopoli. Sempat takut menyergap saya, suasana yang cukup horor.

13237498051507903329

sebagian peralatan (dok.pribadi)

Entah pukul berapa ketika kami akhirnya tiba di lokasi. Tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan. Akhirnya kami memutuskan memarkir sepeda motor kami di salah satu warung semi permanen setelah mengunci dan menutupnya dengan tikar yang ada di warung. Selebihnya kami pasrah saja. Meniti jalan setapak di antara sawah, sesekali kaki kami terpeleset. Licin dan cahaya bulan yang kami harapkan bisa membantu penerangan ternyata tak muncul, tertutup mendung. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam kami menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Terlalu lama karena kami nyasar. Tepat di atas air terjun dengan pemandangan langit luas, sangat strategis tempat kami menginap malam ini. Beruntung meski langit mendung malam itu kunang-kunang banyak berterbangan. Indah.

Selesai mendirikan tenda kami kemudian mulai memasak. Perut sudah sangat lapar. Dingin malam tidak terasa karena badan kami yang penuh peluh, capek. Saya dan seorang teman mencoba membuat api unggun. Mengumpulkan daun-daun jati kering juga bambu yang terdapat di pinggir jalan setapak, kami mulai menyalakan api. Tak berhasil. Api hanya menyala sebentar kemudian mati. Malam ini cukup satu senter saja juga kedip kecil bintang dan bulan yang tak begitu jelas.

Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 perut kami sudah terisi tapi langit belum menunjukkan tanda-tanda akan terang. Sepertinya kami harus melewatkan momen gerhana bulan total ini. Ocehan mulai terdengar dari teman-teman saya. Ocehan tidak penting yang mengocok perut kami yang sesekali harus beradu dengan suara lagu dari radio kecil yang saya bawa juga suara kodok. Entah pukul berapa ketika kami benar-benar terlelap. Tahu-tahu saya mendengar suara rintik air dan mulai berteriak. Hujan. Dua orang teman yang tadi tidur di luar tenda langsung masuk dan kami pun melanjutkan tidur lagi.

Setelah sarapan masih dengan menu yang sama, sarden juga mie instan rebus dan segelas kopi juga susu kami mulai menyiapkan peralatan untuk ”turun”. Tali yang kami bawa ternyata tidak cukup panjang. Teman saya harus mencari pohon yang cukup kuat untuk memasang tali. Melakukan kegiatan semacam ini tentu tidak boleh main-main. Semua harus diperhitungkan demi keamanan. Setelah dirasa cukup kuat dan aman teman saya mencoba turun. Tentu karena dia yang lebih berpengalaman sedang kami sisanya, bertiga, hanya kroco-kroco bermodal nekad. Deg-degan melihat teman saya turun, membayangkan nanti saya juga akan di posisinya, perut saya langsung mulas. Ah, ternyata bukan hanya saya. Kedua teman saya yang lain juga merasakan hal yang sama.

13237499331459729569

persiapan turun (foto dok.pribadi)

Ketika teman saya yang menjadi pioner sudah berhasil di tengah rasa deg-degan tidak langsung hilang. Masih ada separuh jalan untuk mencapai tanah di bawah. Tapi melihat wajah, yang basah kuyup bermandikan air terjun, dengan kegembiraan yang luar biasa di bawah itu membuat nyali saya tertantang. Saya harus mencoba! Dan akhirnya satu persatu dari kami pun turun. Teman yang kedua mengomel ketika kembali ke atas. Pendaratan yang kurang sempurna karena dia sempat tersangkut di tengah. Panik membuatnya kesulitan memasang kembali tali ke harnes.

13237500151982830224

foto dok.pribadi

13237501732089989574

foto dok.pribadi

Begitu giliran saya, perut tidak juga bersahabat. Masih mulas yang saya rasakan meski jantung saya tak sekencang tadi berdetaknya. Setelah memasang peralatan ke tubuh dibantu seorang teman saya pun mulai turun. Pijakan pertama membuat aliran darah saya mendesir cepat, hingga akhirnya saya berhasil menyentuh air terjun, membuat sedikit lega dan segar terasa seketika. Berhenti sejenak di tengah, mengatur nafas. Yup turun lagi, kali ini air terjun mengucur deras di sekujur tubuh, sedikit berat untuk bernafas. Tapi ini sangat menyenangkan, meluncur di antara air yang mencurah menghujam batu besar memercik ke segala arah. Senyum pelangi kecil sesekali muncul memberi semangat.

13237502301482044048

foto dok.pribadi

13237503071208374993

foto dok.pribadi

Di bawah orang sudah ramai, para pengunjung air terjun Sri Gethuk sudah mulai memadati lokasi wisata ini. Akhirnya sampai juga di bawah. Setelah mendongak keatas, rasanya masih belum percaya jika saya baru saja menuruninya. Tidak semenakutan ketika melihat teman saya yang turun, saya justru menikmati. Hal yang sama yang saya yakin ada di kepala orang-orang yang melihat kami, ngeri. Jadi mending mencoba sendiri daripada hanya menyaksikan. Hampir lupa, kami sempat diperingatkan oleh pengelola karena melakukan kegiatan tanpa ijin. Bukan berniat tidak ijin tapi kedatangan kami yang kemalaman tidak memungkinan untuk itu karena lokasi sudah sepi.

Semua berawal dari mimpi dan saat ini semua begitu nyata. Ini pengalaman pertama saya menuruni bukit dengan tali dan sensasinya sungguh luar biasa. Sensasi juga kegembiraan yang saya yakin tidak kalah dengan teman-teman kompasianers serta anak-anak Canting yang berkumpul di Jakarta. Selamat Ulang Tahun yang ketiga untuk Kompasiana, sukses selalu dan semoga tidak pernah lelah mencoba tantangan-tantangan baru. Berani bermimpi? Tidak cukup. Berani membuktikan tentu lebih baik!

1323750372994267322

foto dok.pribadi

***




sumber : http://wisata.kompasiana.com

Posting Komentar

0 Komentar