AGAMA KTP

Sebagai negara yang berketuhanan Yang Maha Esa, negara kita mewajibkan tiap orang memilih satu agama. Beberapa warga negara yang menganut agama yang tidak terdaftar bahkan diharuskan memilih salah satu agama yang ada dan dicantumkan dalam KTP. Dari awal sekali di sekolah kita terbiasa mengidentifikasikan seseorang dengan agamanya. Ketika berkenalan, sangat terbiasa bagi kita untuk bertanya, “Apa agamamu? Kamu ke mesjid? Ke gereja?” Kita bahkan tidak siap untuk mendengar seseorang mengatakan tidak beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan bahwa agama tidak berbanding lurus dengan karakter kita. Bahkan kita temui atas nama agama, kita memburu orang-orang Ahmadiah. Atas nama agama, FPI merusak warung-warung makan yang buka pada Bulan Ramadhan. Seorang guru agama memperkosa muridnya. Mungkin kita bisa mengatakan, “Itu kan oknum, tidak bisa disimpulkan bahwa agama tidak mencerminkan tingkah laku.” Kalau begitu bagaimana dengan fakta bahwa negara kita adalah negara terkorup di dunia? Bisa dipastikan bahwa semua koruptor di Indonesia adalah orang beragama.

Jadi sepertinya agama bukan cerminan tingkah laku sehari-hari. Kita bangga dengan agama masing-masing tapi tetap saja tidak menunjukkan perilaku yang diatur dalam agama kita. Kita menjaga kuat atribut agama kita tapi tidak membiarkan agama menuntun kita. At the end yang membedakan kita dengan orang yang tidak beragama hanyalah atribut-atribut fisik tadi. Kita ke gereja tiap hari tapi tetap korupsi, kita solat tiap hari tapi kita juga berzina.Dengan sadar kita membatasi peran agama hanya sebatas atribut fisik sebagai identitas KTP saja. Tidak heran jika temuan menunjukkan lembaga-lembaga yang mengurus keagamaan justru lembaga yang terbanyak korupsinya.

Sebaliknya, banyak orang yang mengaku tidak beragama tapi tingkah lakunya mencerminkan ajaran agama-agama yang kita anut. Tidak beragama tapi berakhlak baik, tidak beragama tapi layak dipercaya.

Tentu saja ini bukan ide untuk men-generalisasikan bahwa orang tidak beragama lebih baik dari yang beragama. Namun fakta bahwa negara kita merupakan negara terkorup di dunia menunjukkan bahwa agama kita hanya sekedar keterangan yang muncul di KTP. Sekedar informasi statistik dunia bahwa negara kita merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak.

Jika kita sadar bahwa agama sebenarnya adalah tuntunan moral tapi pada saat yang bersamaan kita mengakui negara kita adalah negara terkorup di dunia, lalu apa bedanya kita dengan orang yang tidak beragama?


sumber :

  1. http://maliablog.wordpress.com

Posting Komentar

0 Komentar