Semangat Tinggi

Oleh: Ustadz Samson Rahman di islamedia.web.id
Salah satu karakter penting yang menjadikan Islam memiliki magnet besar bagi orang-orang berakal untuk masuk di dalamnya adalah ajarannya yang memerintahkan pada pemeluknya untuk senantiasa hidup dengan semangat tinggi dan hendaknya memiliki etos kerja yang tinggi. Ajaran Islam tentang semangat tinggi (‘uluwwul himmah). Islam mengajarkan pada pemeluknya agar senantiasa bergerak cepat dalam kehidupan ini dan mengajarkan agar para pemeluknya menjadi manusia aktif dan anti pasivisme. Islam mendorong tindakan-tindakan positif melalui kerja keras dan semagat kompetisi yang sehat.
Ayat-ayat dalam Al-Quran ataupun hadits Rasulullah yang diantaranya akan dipaparkan di bawah ini akan memberikan gambaran secara gamblang betapa Islam melalui Kitab Suci-Nya dan melalui pesan Nabi-Nya memberikan apresiasi sangat luar biasa terhadap kerja keras dan etosnya.
Firman Allah dalam surat Al-Hadid 21 menggambarkan semangat tentang semangat kerja kerasitu : Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Pada ayat yang lain Allah berfirman : Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (Ali Imran : 133).
Tindakan bersegera menggambarkan semangat tinggi dan kecepatan gerak untuk mendapatkan apa yang menjadi target dan tujuan. Berlambat-lambat dalam melakukan pekerjaan hanya akan memperlambat pencapaian tujuan. Makanya Rasulullah pernah memperingatkan dengan keras kepada ummatnya agar jangan menjadikan kerja tunda sebagai kebiasaan yang melekat dalam dirinya. Ibnu Umar pernah berkata : Jika kau memasuki waktu pagi, maka janganlah engkau berpikir menunda pekerjaanmu hingga waktu sore dan jika kamu memasuki senja maka janganlah pernah berpikir untuk melakukan pekerjaanmu di dini hari.
Rasulullah pernah bersabda tentang nilai utama kerja cepat dan bahaya kerja lambat dalam sabdanya :
Barang siapa yang suka melambat-lambatkan pekerjaannya maka tidak akan dipercepat hartanya (HR. Muslim).
Apresiasi Islam agar waktu-waktu kaum muslimin senantiasa terisi dengan aktivitas bisa kita rasakan denyutnya pada firman Allah : Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (Al-Insyirah : 7). Maknanya, janganlah sampai ada waktu dalam kehidupan seorang mukmin yang tidak terisi dengan aktivitas. Sebab aktivitas adalah simbol dinamisme dan tanda adanya kehidupan. Manusia yang tidak memiliki aktivitas berarti sedang melakukan penghancuran terhadap dinamika kehidupan ini.
Kemajuan Islam di masa-masa gemilangnya dibangun di atas kurasan keringat dan perasan pikiran yang tidak henti-hentinya dilakukan oleh para sahabat-sahabat Rasulullah. Sehingga dalam waktu yang sangat singkat Islam berhasil mengungguli peradaban-peradaban yang telah lama hidup sebelum Islam yakni Romawi dan Persia. Etos kerja keras merekalah yang melambungkan Islam menjadi imam peradaban dunia dalam jangka waktu yang cukup lama. Mereka menyadai sepenuhnya bahwa kerja keras adalah fundamantal utama bagi lahirnya sebuah peradaban besar.
Islam memberikan ruang yang sangat sangat besar bagi semangat kerja keras ini hingga setelah shalat Jum’atpun kaum muslimin diperintahkan untuk kembali beraktivitas pada posisi, profesi dan tugasnya masing-masing dalam rangka mencari karunia Allah yang Allah sediakan bagi mereka yang bekerja. Allah berfirman : Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung(Al-Jum’ah : 10).
Sangatlah keliru apabila kita melestarikan kemalasan dan membuat waktu kita menguap tanpa makna. Umar dengan sangat keras membentak seseorang yang pada siang hari tetap berdiam diri di dalam mesjid dengan alasan bahwa dia sedang beribadah kepada Allah. Dia menyayangkan pemahaman yang salah bahwa ibadah hanya bisa dilakukan di dalam mesjid. Umar, seorang visionir ummat ini, tahu sepenuhnya bahwa kerja keras yang dengannya seseorang mengeluarkan keringat keluar dari pori-pori kulitnya adalah bentuk ibadah lain kepada Allah. Allah sangat menyukai orang-orang yang memiliki kerja pasti dan tidak suka terhadap para penganggur yang tidak memiliki pekerjaan dan hanya luntang-lantung tidak pasti arah hidup dan kerjanya.
Pada saat-saat yang paling kritispun Rasulullah memberikan arahannya agar kerja kerja dan kerja penuh visi ke depan menjadi karakter setiap muslim dalam menjalani hidup ini. Rasulullah bersabda : Andaikata kiamat terjadi sementara di tangan salah seorang diantara kalian ada satu biji tanaman, maka jika dia mampu untuk menanamnya, hendaknya dia menanam ( HR. Ahmad dan Bukhari).
Demikianlah Islam memberikan apresiasi pada kerja dan semangat tinggi hingga walaupun kiamat telah terasa getarannya dan di tangan kita ada satu biji tanaman, kita tidak harus berpikir untuk memetiknya, namun hendaknya berpikir bahwa kita akan mendapat pahala karena kita telah mengeluarkan tenaga yang Allah berikan kepada kita dengan menanam biji tanaman itu. Allah tidak melihat hasil dari tanaman itu, namun dia melihat apa yang telah perbuat.
Para ulama terdahulu dengan cerdas telah memaknai semangat tinggi ini dalam kehidupan mereka. Imam Bukhari pada malam-malam harinya biasa bangun untuk menuliskan apa yang terlintas dalam pikirannya, kemudian setelah selesai dia tidur kembali. Dan apabila ada yang terlintas kembali maka dia akan menuliskannya kembali, demikianlah hingga dia bangun sebanyak dua puluh kali dalam semalam. Imam Bukhari tidak ingin kehilangan momen penting dalam hidupnya yang tidak akan pernah kembali.
Ummat Islam akan kembali merebut mahkota kejayaannya bila dalam dirinya berkobar keimanan yang dinamis dan semangat dan etos kerja yang tinggi. Peradaban Islam akan kembali menjulang apabila pondasinya telah dipersiapkan dengan kokoh kuat. Tanpanya kereta peradaban Islam akan terus berjalan lambat dan kita akan menjadi “makmum masbuq” peradaban lain.
Wallohu a’lam,

sumber :
  1. http://ceritateladan.com

Posting Komentar

0 Komentar