Tugas Akal dalam Menggendalikan Hawa Nafsu

Akal memainkan peran penting dalam membatasi dan mengendalikan hawa nafsu manusia. la juga berperan membantu manusia agar tidak selalu memenuhi segala ajakan nafsunya.

Kata 'aql atau 'iqâl dalam bahasa Arab mempunyai arti 'ikatan' dan 'pembatasan'. Dan begitulah peran yang harus diambil akal dalam menghadapi hawa nafsu manusia.

Pengertian ini telah disinyalir dari hadis Rasulullah SAW sebagai berikut :

"Sesungguhnya akal merupakan pengikat kebodohan. Sedang nafsu bak binatang yang sangat buas.” [1]

Sebenarnya banyak sekali riwayat yang menjelaskan pengertian ini, di antaranya ialah:

Imam Ali as berkata: "Pikiranmu akan menunjukkan pada jalan yang rasyâd (lurus)." [2]

Imam Ali as berkata pula: "Jiwa memendam berbagai hasrat hawa nafsu. Dan akal yang bertugas melarang dan mencegahnya. " [3]

Dari Imam Ali as: "Jiwa itu liar. Dan tangan-tangan akallah yang akan memegang kekangnya." [4]

Dari Imam Ali as: "Hati memendam berbagai hasrat jahat, dan akal yang mencegahnya." [5]

Dari Imam Ali as: "Buah akal ialah benci dunia dan mengekang hawa nafsu." [6]

Peran yang dimainkan akal dalam kehidupan manusia ialah menahan dan membatasi gerak laju hawa nafsu serta mencegah sikap ekstremis dalam memenuhi segala luntutan liawa nafsu.

Besar kesempurnaan dan kekuatan akal, sebesar taufik yang dimiliki manusia dalam mengendalikan gerak hawa nafsu.

Imam Ali as berkata: "Akal yang sempurna akan mencegah tabiat jelek." [7]

Artinya, menahan dan menundukkan hawa nafsu meru pakan tanda sehatnya akal.

Imam Ali as berkata: "Peliharalah akal dengan menen tang hawa nafsu dan menjauhkan diri dari dunia”. [8]

Imam Bâqir as berkata: "Akal (yang sebenarnya) ialah yanig menentang hawa nafsu." [9]

Imam Ali as bertutur: "Barangsiapa menjauhi hawa, maka akan selamat/sehat akalnya." [10]

Akal dan hawa nafsu sania-sama berperan vital dalam hidup manusia. Hawa nafsu memotori siklus hidup manusia, sedang akal berperanan sensitif dalam membatasi, mengen dalikan, serta mencegah hegemoni dan perusakan hawa nafsu atas totalias manusia.

Akal dan Agama

Tugas agama sama dengan tugas akal dalam membatasi hawa nafsu dan mengendalikan tindakan-tindakannya yang semena-mena. Visi kerja akal dan agama sangat bersesuaian. Karena, agama adalah fitrah.

Allah berfirman: "... (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus..." Q.S. Ar-Rûm 30.

Fitrah, yang mengusai manusia dan sepenuhnya di terima akal itu adalah agama Allah yang jadikan-Nya sebagai petunjuk bagi manusia. Maka dari itu, agama menopang peran akal dalam mengendalikan hawa nafsu. Di lain pihak, agama memerankan akal dalam mengendalikan hawa nafsu. Sesungguhnya, akal dan a gama ialah dua sisi dari satu mata uang.

Imam Ali asberkata: "Akal adalah syariat dalam (inter nal) dan syariat adalah akal luar (eksternal)." [11]

Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: "Sungguh Allah mempunyai dua hujjah atas manusia; hujjah Zhâhir dan Bâthin. Adapun hujjah yang tampak ialah para rasul as, Nabi as dan Imam as. Sedangkan hijjah yang tersembunyi ialah akal.” [12]

Dari Imam Shadiq as: "Hujjah Allah atas para hamba- Nya ialah nabi. Dan hujjah antara para hamba dan Allah adalah akal." [13]

Tiga Peran Akal

Akal mempunyai tiga peran penting dalani kehidupan manusia.

1. Mengenal Allah SWT ialah pangkal dan titik-tolak tugas akal.

2. Keraatan mutlak kepada segala perintah Allah SWT Mengenal rubûbiyyah Allah dengan baik akan menghasilkan ketaatan dan 'ubûdiyyah.

3. Takwa keparla Allah SWT, yang merupakan sisi lain dari ketaatan kepada Allah. Ketaatan kepada Allah mempu nyai dua sisi;

Pertama, melaksanakan kewajiban.

Kedua, mencegah diri dari keharaman.

Takwa adalah mencegah jiwa daii hal-ihwal yang di haramkan.

Barang kali beberapa nash di bawah ini bisa mempei1- jelas tiga peran akal tersebut.

Rasulullah SAWW bersabda: "Akal terbagi menjadi tiga bagian, dan barangsiapa menyandangnya, maka sempurnalah akalnya, dan yang tidak, dia tidak berakal:

1. Makrifat yang benar tentang Allah SWT.

2. Ketaatan yang mutlak kepada Allah SWT.

3. Kesabaran yang mendalam untuk menjalankan pe rintah-Nya." [14]

Adapun maksud rlari 'sabar dalam menjalankan perin tah-Nya' ialah ketakwaan dan pengekangan hawa nafsu. Sebab menahan dan menundukkan hawa nafsu memerlukan kesabaran.

Di bawah ini saya akan mengurai ketiga peran akal di atas.

1. Makrifat dan Argumentasi

Tugas pertama akal adalah makrifat, tahu dan menge tahui atan tugas-tugas epistemologis lainnya. Akal meru pakan sarana pengetahuan dan penyingkapan berbagai realitas alam. Berbeda dengan pandangan kaum sufi yang menjatuhkan, bahkan pada tingkat tertentu mengelaminasi akal sebagai wahana makrifat atau penyingkap berbagai haki kat kosmos, Penciptanya dan alam gaib.

Islam sepenuhnya mengesahkan konklusi rasional. Is lam menganggapnya sebagai wahana pengetahuan tentang cakrawala alam fisik dan metafisik: Tuhan, berbagai kewajiban-Nya dan larangan-Nya atas manusia.

Rasulullah SAWW bersabda: "Sesungguhnya seluruh kebaikan hanya dimengerti oleh akal." [15]

Rasulullah SAWW juga bersabda: "Mintalah petunjuk kepada akal, niscaya kamu akan mendapatkannya. Dan ja ngan menentangnya, niscaya kamu akan menyesal." [16]

Imam Ali as berkata: "Akal adalah sumber pengetuhuan dan pengajak kepada pemahaman." [17]

Dari Imam Shâdiq as: "Akal adalah petunjuk orang mukmin”. [18]

Selain peran dan nilai akal dalam menguak alam se mesta, riwayat-riwayat keislaman menegaskan bahwa Allah berhujjah kepada para hamba-Nya melalui akal. Argumentasi Ilahi dengan akal dan berbagai implikasinya berupa, siksaan dan tanggung-jawab, menunjukkan kepada kita betapa agung nilai akal clalam kehidupan manusia dan dalam agama Allah (Islam).

Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: "Sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia; hujjah zhâhir dan hujjah bâthin. Adapun hujjah zhâhir ialah para Rasul, Nabi dan Imam as. Sedangkan, hujjah bâthin ialah akal" [19]

Imam Mûsâ bin Ja'far as juga berkata: "Allah benar- benar telah menyempurnakan hujjah-hujjah-Nya pada manusia melalui akal, membukakan (akal mereka) dengan al-bayân (penjelasan) dan menunjukkan mereka pada rubûbi yah-Nya dengan berbagai dalil (bukti)" [20]

Jadi, akal ialah hujjah buat manusia dan hujjah Allah buat hamba-hamba-Nya. Tanpa nilai besar (epistemologis dan aksiologis – Peny.) yang dimiliki akal dalam Islam untuk mengetahui dan memahami sesuatu, maka niscaya ia tidak bakalan menjadi hujjah atau berhujjah dengannya.

2. Ketaatan kepada Allah SWT

Nilai agung yang dimiliki pengetahuan dan idrâk (kog nisi atau persepsi) teoretis itu, pasti akan melahirkan berbagai implikasi pengetahuan praktis tentang serangkaian ketentuan, baik yang wajib maupun yang haram bagi manusia.

Pengetahuan teoretis manusia tentang rubûbiyyah dan ulûhiyyah Allah dan tentang 'ubûdiyyah (penghambaan) manusia akan melahirkan konsekuensi-konsekuensi praktis seperti ketaatan dan komitmen dalam melaksanakan perin tah-perintah-Nya.

Di sinilah terletak keistimewaan akal; memposisikan manusia sebagai pelaku perintah dan larangan -selanjutnya- sebagai penerima pahala dan siksa - ketaatan dan kemak siatannya.

Mari kita cermati riwayat-iiwayat kislaman berikut ini: Imam Abu Ja'far Al-Bâqir as berkata: "Allah menciptakan akal lalu mengajaknya berbicara. Menghadaplah kemari! Maka akalpun menghadap. Berpalinglah! Maka iapun berpa ling. Kemudian Allah berfirman: "Demi keagungan dan kebe saran-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Aku cintai daripadamu. Aku tidak menyempurnakanmu (memberi kan) kecuali kepada orang yang Aku cintai. Ketahuilah hanya kepada kamulah Aku memerintah, melarang, menyiksa dan memberi pahala.” [21]

Abu Abclillah, Ja'far Ash-shâdiq as berkata: "Allah men ciptakan akal, lalu menyuruhnya berpaling, maka iapun ber paling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, maka iapun menghadap. Lantas Allah berfirman: Demi Keagungan dan Kebesaran-Ku, Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih baik daripadamu. Hanya kepadamuluh Aku memerin tah, melarang, memberi pahala dan menyiksa." [22]

Masih banyak nash lain yang senada yang menjelaskan kepatuhan akal kepada Allah SWT. Perkara itu terungkap melalui bahasa simbolik yang terdapat pada kalimat "Allah berfiman.: Menghadaplali! Akalpun menghadap. Kemudian Dia menyuruhnya berpaling, maka akalpun berpaling." Dalam nash-nash keislaman, bahasa simbolik sangat populer untuk menjelaskan hal-hal seperti ini.

Dalam sebuah riwayat, Imam Ali as menjelaskan hubungan kausal antara pengetahuan teoritis dan praktis: "Orang berakal, bila mengetahui sesuatu pasti mengamalkan nya. Dan bila mengamalkannya, pasti mengikhlaskan amaln ya”. [23]

Adapun nash-nash keislaman yang memuat peran akal dalam mewujudkankan kepatuhan, penghambaan dan ketataan manusia kepada perintah Allah SWT sangat banyak sekali. Saya akan menyebutkan beberapa di antaranya di bawah ini:

Rasulullah SAWW bersabda: "Orang yang berakal adalah orang yang taat kepada Allah." [24]

Nabi Muhammad SAWW pernah clitanya, apakah akal itu? Beliau menjawab: "la adalah (alat) untuk ketaatan kepada Allah. Karena, orang-orang yang taat kepada Allah adalah orang-orang yang berakal." [25]

Imam Ja'far Ash-shâdiq as pernah ditanya, apakah akal itu? Beliau menjawab: "Akal adalah alat yang digunakan untuk menyembah (beribadah) kepada Ar-Rahman (Allah) dan untuk memperoleh surga-Nya. " Kemudian beliau juga ditanya, lalu gerangan apakah yang dimiliki Mua'wiyah itu? Beliau menjawab: "Itu adalah nakrâ`atau syaithanah (tipu daya setan)." [26]

Imam Ali as berkata: "Orang yang poling berakal di antara kalian adalah orang yang paling taat kepada Allah." [27]

Abu abdillah Ash-shâdiq as berkata: "Orang yang berakal adalah orang yang merendah dalam memenuhi pang gilan kebenaran." [28]

Maksud hadis ini ialah bahwa akal akan merendahkan (menundukkan) manusia agar memenuhi panggilan Allah un tuk taat kepada- Nya.

3. Sabar dalam Menentang Ajakan Hawa Nafsu

Ini adalah peran ketiga yang telah ditentukan Allah bagi akal dan ini adalah yang paling berat dari sekian banyak peran yang dimainkannya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, peran ini merupakan dimensi lain ketaatan kepada Allah.

Dimensi pertama ketaatan kepada Allah adalah melaksanakan segala kewajiban. Sedangkan sisi kedua adalah kon sistensinya dengan terus-menerus mencegah diri dari segala larangan Allah SWT dan mengendalikan jiwa dari berbagai godaan syahwat dan hawa nafsu. Berdasarkan hal ini, akallah yang bertanggung jawab baik dalam menguasai maupun menundukkan segala kesenangan nafsu.

Berbilang jumlah riwayat yang menguatkan peran penting akal untuk bangkit mengekang dan menahan hawa nafsu. Nash-nash tersebut mencurahkan perhatian yang serius dalam rangka mengembangkan kemampuan manusia melak sanakan dimensi ini dari ketaatan kepada Allah.

Di bavvah ini saya sebutkan beberapa nash yang men jelaskan masalah di atas:

Imam Ali as berkata:"Akal aclalah pedang yang ta jam” . [29]

Imam Ali as berkata : "Bunuhlah hawa nafsumu de ngan senjata akalmu." [30]

Dari Imam Ali as: "Jiiwa memendam berbagai hasrat nafsu. Akal berfungsi untuk mencegahnya." [31]

Dari Imam Ali as: "Hati memendam berbagai hasrat jelek, sedangkan akal selalu menahannya." [32]

Imam Ali as: "Orang yang berakal adalah orang yang mengalahltan hawa nafsunya dan orang yang tidak menukar akhiratnya dengan dunianya." [33]

Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang meninggalkan hawa nafsunya dan yang membeli dunianya untuk akhiratnva”. [34]

Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah musuh kelezatan dan orang bodoh adalah budak syahwat." [35]

Dari Imam Ali as: "Orong berakal adalah orang yang melawan nafsunya untuk taat kepada Tuhannya." [36]

Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang mengalahkan kecenderungan-kecendernugan hawa naf sunya." [37]

Dari Imam Ali as: "Orang berakal adalah orang yang mematikan syahwatnya dan, orang kuat adalah orang yang menahan kesenangannya." [38]

Di sini terdapat tiga peran akal; makrifat kepada Allah, taat kepada Allah dalam menjalankan kewajiban, dan mena han hawa nafsu dan segala yang dilarang Allah SWT.

Yang menarik untuk dikaji di sini ialah peran yang ketiga; untuk menahan dan mengendalikan hawa nafsu. Un tuk melaksanakan tugasnya itu akal selalu berhadapan de ngan hawa nafsu.

Nasib Manusia Ditentukan dari Hasil Pertarungan antara Akal dan Hawa Nafsu

Hasil pertarungan antara akal dan hawa nafsu inilah yang bakal menentukan kebahagiaan dan kesengsaraan manusia. Manusia dalam pertarungan ini terpecah menjadi dua kelompok; blok orang takwa dan blok orang fasik. Dan prilaku manusia juga terbagi menjadi dua: takwa dan fujûr (keji).

Takwa merupakan kemenangan akal atas hawa nafsu, dan sebaliknya fujur. Di persimpangan antara akal dan hawa nafsu ditentukan nasib manusia; bahagia atau tidaknya dan dzâtul yamîn (kelompok kanan) atau dzatusy syimâl (kelompok kiri). Perbedaan dua kolompok ini bersifat hakiki, sub stansial dan menentukan nasib.

Di persimpangan inilab semuanya akan terjadi. Sekelompok manusia yang mengunggulkan akal atas hawa nafsu adalah orang-orang saleh dan takwa. Mereka terus melaju kencang ke surga. Sekelompok lainnya yang mengung gulkan hawa nafsunya atas akal, yaitu kelompok orang-orang fasik dan lalim melaju kencang ke jahanam.

Diriwayatkan dari Imam Ali as hadis berikut ini: "Barangsiapa yang akalnya mengalahkan hawa nafsunya, akan beruntung. Dan barangsiapa yang hawa nafsunya me ngalahkan akalnya, maka ia akan celaka." [39]

Diriwayatkan bahwa Imam Ali as pernah berkata: "Akal merupakan bala tentara Ar-Rahmân, sedangkan hawa nafsu panglima tentara setan dan jiwa pontang-panting di antara keduanya. Maka yang menang akan menguasai jiwa." [40]

Sesungguhnya pergolakan antar dua kubu ini, semata- mata untuk merebut jiwa. Kemudian menjadikannya sebagai tawanan yang tunduk padanya.

Imam Ali as berkata: "Akal dan syahwat adalah dua hal yang saling berlawanan. Ilmu adalah pembantu ahal dan nafsu adalah hiasan syahwat. Sedang jiwa merupakan rebu tan keduanya. Jiwa akan berada di samping yang menang antar keduanya." [41]

Kelemahan akal dan Kedigdayaan Hawa Nafsu

Dalam pertarungan yang menentukan nasib akhir manusia ini, akal adalah pihak yang lemah sementara hawa nafsu adalah pihak yang kuat. Hal itu, karena akal adalah alat untuk memahami dan mengetahui sesuatu, sementara hawa nafsu adalah kekuatan besar jiwa yang menggerakkan manusia.

Tidak ayal lagi, akal dapat mengetahui dan memahami sesuatu. Namun, berbeda dengan hawa nafsu, ia bukanlah motor dan kompresor jiwa manusia.

Imam Ali as berkata: "Berapa banyak akal yang takluk di bawah tampuk hawa nafsu yang berkuasa." [42]

Hawa Nafsu mendorong manusia melalui rayuan dan tipu dayanya sehingga manusia tergelincir bersamanya. Sementara, di pihak lain, akal mengajak manusia kepada sesuatu yang dibencinya.

Imam Ali as berkata: "Paksakan diriinu (berbuat) fadhâ`il (keutamaan-keutamaan), karena radzâ`il (kehinaan-kehi naan) telah tertanam dalam dirimu." [43]

Jalan menuju syahwat dan hal-hal yang hina itu melun cur turun. Sedang jalan menuju keutamaan mendaki naik. Oleh karena itu. akal selalu di posisi yang lemah dibanding posisi hawa nafsu. Sementara hawa nafsu memasuki medan laga dalam kondisi prima dan menyerang, akal dalam banyak kesempatan lemah menghadapinya. Dengan begitu, hawa nafsu dengan mudah mengalahkan akal dan sepenuhnya me nguasai jiwa manusia.

Prajurit-prajurit Akal

Tugas akal yang sedemikian sulit itu, telah dibantu Allah dengan menganugrahinya sejumlah kekuatan dan perangkat yang dapat mendukung jerih-payahnya.

Di antaranya, kecenderungan-kecenderungan terhadap kasih-sayang dan kebajikan yang tersebar; fitrah, dhamîr dan beberapa emosi dalam jiwa manusia.

Berbagai kecenderungan ini memiliki kemampuan un tuk menggerakkan manusia dalam menghadapi sekaligus mengendalikan naluri atau insting. Misi utama mereka ialah menopang aktifitas akal dalam membatasi dan menekan hawa nafsu.

Sebab, sebagaimana yang sudah saya jelaskan, akal hanya berguna untuk mengetahui, mengerti dan memahami. la menjadikan manusia mampu menentukan yang benar dan mengerti sesuatu secara sahih. Akan tetapi, ia tidak menjadikan manusia mampu mengendalikan dan menekan berbagai insting manusiawi. Oleh sebab itu, ia mesti meminta bantuan kepada faktor-faktor dan pendorong-pendorong lain yang ada dalam jiwa manusia. Dengan begitu, akal akan lebih mantap menghadapi berbagai insting manusia.

Dalam bahasa etika keislaman, sejumlah faktor pen dukung tersebut diberi nama junûdul 'aql (prajurit-prajurit akal). Berikut ini beberapa contoh tindakan akal memperban tukan prajurit-prajurit tersebut:

1. Dalam tekanan naluri cinta harta-benda, manusia bisa menghalalkan segala cara. Dengan bantuan 'izzat an-nafs (harga-din) yang terpendam dalam jiwa setiap insan, akal menolak tindakan memburu harta di tempat-tempat yang menghinakan harkat manusia. Tentunya, akal menolak sum ber pendapatan harta yang hina. Namun petunjuk dan bimbingan akal saja belum cukup untuk mencegah jiwa dari mencari harta yang menghinakan. Maka itu, ia mengajak harga diri untuk bahu-membahu dalam mengingatkan manusia daii cmta harta yang membuta itu.

2. Naluri seksual seringkali memaksa manusia menda pat kelezatan seksual melalui cara-cara yang haram atau hina. Naluri seksual, bisa dipastikan, adalah naluri yang paling banyak menuntut dan memaksa. Akal dengan jelas mengetahui bahwa melampiaskan hasrat seksual ditempat- tempat hina adalah tidak benar. Namun, bagaimana mungkin akal, fahm (pemahaman) dan bashîrah dapat melawan tekanan naluri seksual yang memuncak? Jawabnya, dengan meminta bantuan 'iffah an-nafs (kesucian-diri) yang terpendam cli setiap jiwa manusia yang lurus fitrahnya. Maka, de ngan itu manusia bisa menolak praktik asusila yang dijauhi fitrah yang lurus.

3. Kadang naluri angkuh, sombong dan merasa istimewa memaksa seorang agar menghina dan menekan orang-orang lain sekadar untuk memuaskan egoismenya. Akal menyalah kan prilaku ini. Namun, la tidak bisa melawan kekuasaan ego yang ada dalam jiwa manusia sendirian. Karenanya, ia meminta bantuan rasa suka merendah (tawâdhu') kepada orang lain. Kemudian. barulah akal bisa melawan sikap berlebihan dalam memuaskan egoisme itu.

4. Kadang-kala manusia berada di bawah tekanan naluri amarah yang sangat kuat dalam jiwa manusia. Naluri ini mengajaknya membunuh orang lam. Betapapun akal mema hami bahwa perbuatan ini salah, ia tetap tidak mampu meng hadapi tekanan naluri ini yang memaksa ini. Bahkan, pada galibnya, amarah membuat orang lupa daratan. Tetapi. dengan bantuan rahmah (perasaan belas kasih) amarah dapat diredam. Rahmat ini mempunyai kekuatan yang setara atau lebih dari yang dimiliki amarah. la sering mencegah manusia dari beberapa tindakan keji yang bersumber dari amarah.

5. Manusia suka bertahan melakukan maksiat karena satu atau lain pengaruh berbagai naluri. Dengan meminta bantuan makhâfatullâh (takut kepada Allah), akal bisa men jauhkan manusia dari maksiat.

Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang lain. Sengaja saya sebutkan sebagmn kecil untuk menjelaskan saja. Di bawah ini saya akan menyebutkan beberapa contoh lain tanpa penjelasan.

Menghadapi ketiadaan rasa-malu dan kehina-dinaan, akal meminta bantuan pada syukr ni'mah (rasa ingin menyukuri nikmat sebagai tanda balas-jasa). Menghadapi kebencian dan kedengkian, akal meminta bantuan pada al-hub (rasa cinta). Menghadapi keputusasaan, akal meminta bantuan pada ar-rajâ`(pengharapan).

Inilah sekelumit contoh tentang peran prajurit akal dalam menopang peranan akal menghadapi hawa nafsu clan syabwat. Dan permohonan bantuan dari akal pada prajurit- prajuritriya dalam mengendalikan dan menentang arus syahwat dan hawa nafsu yang ada dalam jiwa manusia.

Pemaparan Nash-nash Bala-tentara Akal

Penopang-penopang akal yang terkandung dalam nash- nash keislaman yang disebut bala tentara berjumlah 75. Mereka semua diperbantukan akal untuk menghadapi 75 bala tentara hawa nafsu. Penopang-penopang hawa nafsu disebut dalam nash sebagai tentara kebodohan (jahl). Dua kelompok ini akan saling berseteru dan beradu dalam jiwa manusia.

Al-Alamah Al-Majlisi telah meriwayatkan dalam kitab Bihârul Anwâr jilid pertama beberapa riwayat tentangnya; dari hadis Imam Ash-shâdiq as dan Imam Al-Kâzhim as. Dengan sengaja saya nukilkan nash lalu saya mengkajinya pada pembahasan yang akan datang, Insya-Allah.

Riwayat Pertama

Dari Sa'd dan dari Al-Himyari dari Al-Bâqî dari Ali bin Hadîd dari Sumâ'ah (bin Mihrân) berkata: "Saya pernah hadir dalam majlis Abu Abdillah as di sana juga hadir sebagian murid yang lain. Majlis itu membahas masalah akal dan kejahilan. Kemudian Abu Abdillah berkata: "Kamu hen daknya mengetahui akal beserta bala-tentaranya dan kejahi lan beserta bala-tentaranya agar kamu mendapat petunjuk.”

Sumâ'ah berkata: “Maka aku berlanya: Semoga jiwaku jadi tebusanmu, saya tidak mengerti kecuali apa yang Anda jelaskan”.

Abu Abdillah menjawab: "Sesungguhnya Allah mencip takan akal sebagai makhluk pertama yang bersifat ruhany. Saat itu akal terletak di samping kanan 'Arsy yang tercipta dari Nur-Nya. Kemudian Allah berfirman kepada akal: "Meng hadaplah! Akalpun menghadap. Allah berfirman: "Berpa linglah! lapun berpaling. Kemudian Allah berfirman: "Kuciptakan kamu sebagai ciptaan yang agung. Kumuliakan kamu di atas seluruh ciptaan-Ku".

Beliau melanjutkan: Allah menciptakan jahl (kejahilan) dari laut asin yang zhulmâny (gelap-gulita). Kemudian Allah menyuruhnya berpaling dan iapun berpaling. Kemudian Allah menyuruhnya menghadap, tetapi kejahilan itu tidak meng hadap. Allah berfirman kepadanya: Kau congkak? Lalu Allah mengutuknya. Kemudian Dia menciptakan 75 tentara akal.

Melihat hal itu, dengan nada permusuhan kejahilan berkata: Tuhan, akal adalah makhluk-Mu sebagaiinana juga aku. Mengapa ia Engkau muliakan dengau kekuatan sedang aku lawannya tidak mempunyainya? Berilah aku kekuatan seperti dia. Lalu Allah berfinnan: Baiklah. Tetapi apabila engkan beserta bala tentaramu bermaksiat, maka akan Kukeluarkan kamu sekalian dari rahmat-Ku. Kejahilan men jawab; "Saya terima janji itu. Alloh kemudian memberinya 75 tentara. Adapun ke 75 tentara akal dan kejahilan adalah:

No.

Tentara Akal

Tentara Jahl

1.

Kebajikan (menteri akal)

Kejahatan (menteri jahl)

2.

Iman

Kufur

3.

Percaya (tahsdîq)

Ingkar (juhûd)

4.

Harapan (rajâ`)

Putus-asa (qunûth)

5.

Keadilan (‘adl)

Kezaliman (jaur)

6.

Rela (ridhâ)

Tidak rela/murka (sukht)

7.

Syukur (syukr)

Ingkar nikmat (kufrân)

8.

Gemar kebaikan (thama’)

Putus ikhtiar (ya`s)

9.

Tawakal

Ambisius (hirsh)

10.

Lemah-lembut (ra`fah)

Lalai (ghîrah)

11.

Kasih-sayang (rahmah)

Amarah (ghadhab)

12.

Ilmu (‘ilm)

Bodoh (jahl)

13.

Cerdik (fahm)

Dungu (humq)

14.

Menjaga-diri (‘iffah)

Ceroboh (tahattuk)

15.

Zuhud

Hasrat (raghbah)

16.

Sopan (rifq)

Kasar (kharq)

17.

Waspada (rahbah)

Gegabah (jur`ah)

18.

Rendah-hati (tawâdhu’)

Takabur

19.

Kalem (ta`uddah)

Tergesa-gesa (tasarru’)

20.

Bijaksana (hilm)

Konyol (safah)

21.

Pendiam (shamt)

Pengoceh (hadzar)

22.

Menyerah (istilâm)

Menentang (istikbâr)

23.

Mengakui (taslîm)

Membandel (tajabbur)

24.

Maaf (‘afwu)

Kesumat (hiqd)

25.

Lunak (riqqah)

Keras (qaswah)

26.

Yakin

Syak

27.

Sabar

Meronta (jaza’)

28.

Pemaaf (shafh)

Pendendam (intiqâm)

29.

Kaya (ghinâ)

Fakir

30.

Tafakur

Lali (sahw)

31.

Hapal (hifzh)

Lupa (nis-yân)

32.

Penyambung (ta’âthuf)

Pemutus (qathî’ah)

33.

Qanâ’ah

Ingin menambah (hirsh)

34.

Emansipasi (muwâsât)

Isolasi-diri (man’)

35.

Rasa sayang (mawaddah)

Rasa permusuhan (‘adâwah)

36.

Memegang (wafâ`)

Melepas (ghadr)

37.

Ta’at

Maksiat

38.

Khudhû’

Arogansi (tathâwul)

39.

Selamat

Bencana (balâ`)

40.

Cinta (hubb)

Marah (ghadhab)

41.

Jujur (shidq)

Bohong (kidzb)

42.

Haq

Batil

43.

Amanat

Khianat

44.

Murni (ikhlâsh)

Noda (syaûb)

45.

Cekatan (syahâmah)

Lamban (balâdah)

46.

Cendekia (fahm)

Tolol (ghabâwah)

47.

Pengetahuan (ma’rifah)

Penyangkalan (inkâr)

48.

Pengukuhan (madârah)

Penyingkapan (mukâsyafah)

49.

Menjaga aib orang lain

Makar

50.

Menyimpan rahasia (kitmân)

Ekspose (ifsyâ`)

51.

Salat

Penyia-nyiaan (idhâ’ah)

52.

Puasa

Ifthâr

53.

Jihad

Lari dari jihad (nukûl)

54.

Haji

Ingkar janji

55.

Menjaga omongan

Membongkar skandal

56.

Bakti kepada orang-tua

Durhaka

57.

Realitas (haqîqah)

Riyâ`

58.

Ma’ruf

Tabu (munkar)

59.

Menutup aurat (satr)

Bersolek (tabarruj)

60.

Taqiyyah

Mengobral perkataan (idz’ah)

61.

Jalan tengah (inshâf)

Fanatisme (hamiyyah)

62.

Bersih (nazhâfah)

Kotor (qadzir)

63.

Malu (hayâ`)

Bugil (khal’)

64.

Terarah (qashd)

Bablas (‘udwân)

65.

Relaks (râhah)

Lelah (ta’ab)

66.

Kemudahan (suhûlah)

Kesukaran (shu’ûbah)

67.

Berkah

Binasa (mahq)

68.

Afiat

Petaka (balâ`)

69.

Normah (qiwâm)

Berlebih (mukâtsarah)

70.

Hikmah

Hawa nafsu

71.

Bahagia

Nestapa (syaqâwah)

72.

Taubat

Berkeras kepala (ishrâr)

73.

Istighfar

Pongah (ightirâr)

74.

Mawas-diri (muhâfazhah)

Lengah (tahâwun)

75.

Berdoa

Berpaling (istinkâf)

Ke-75 bala-tentara ini ticlak akan dipersatukan kecuali pada seorang nabi, penerus nabi (washiy) atau seorang Muk inin yang hatinya telah lulus ujian. Selain mereka, mempunyai sebagian. Dan dalam perjalanannya nanti, dia akan menyem purnakan bala-tentara akal dalam jiwanya sambil selalu mew aspadai bala-tentara jahil. Setelah itu, baru manusia dianggap sederajat dengan para nabi dan washiy.

Tentunya, sebelum mencapai apapun, manusia mesti mengerti dan mengenal akal dan bala-tentaranya. Mudah- mudahan Allah SWT memberi taufik kepada kita semua untuk berlaku taat dan mendapat ridha-Nya." [xliv]

Riwayat Kedua

Riwayat ini berasal dari Hisyâm bin Al-Hakam dari Imam Abi Al-Hasan, Mûsâ bin Ja'far Al-Kâhzim as. Juga diriwayatkan oleh Al-Kulaini ra dalam kitab Ushûlul Kâfî, 1:13-23, dan Al-Majlisi ra dari Al-Kulaini dalam kitab "Bi h ârul Anwâr, 1:159.

Sebenarnya, riwayat ini pajang sekali. Oleh karenanya, saya akan menukil sebagiannya saja.

Imam Mûsâ bin Ja'far as berkata: “Wahai Hisyâm, kenalilah akal beserta bala-tentaranya dan kejahilan beserta bala-tentaranya, niscaya kamu akan tergolong orang-orang yang telah mendapat petunjuk (muh tadîn)”.

Hisyam berseru: "Kami tidak mengetahui apapun kecuali yang telah Anda ajarkan”.

Beliau berkata: "Wahai Hi syâm, sesungguhnya Allah telah menciptakan akal sebagai ciptaan pertama Allah. Kemudian Allah menjadikan 75 tentara baginya. Antara lain:

Tentara Akal

1. Kebaikan (menteri akal yang pertama)

2. Iman

3. Jujur

4. Ikhlas

5. Harapan

6. Adil

7. Rela

8. Syukur

9. Gemar kebaikan

10. Tawakal

11. Lemah-lembut

12. Ilmu

13. Iffah

14. Zuhud

15. Santun

16. Waspada

17. Tawaclhu'

18. Kalem

19. Bijak

20. Pendiam

21. Mengalah

22. Menerima

23. Maaf

24. Halus

25. Yakin

26. Sabar

27. Lapang-dada

28. Kaya

29. Tafakur

30. Hapal

31. Penghubung

32. Qanâ’ah

33. Terbuka

34. Kasib-sayang

35. Setia

36. Taat

37. Patuh

38. Selamat

39. Mengerti

40. Pengetahuan

41. Mulia

42. Sehat

43. Kemahiran menyembunyikan perkataan

44. Beradab

45. Hakikat

46. Makruf

47. Taqiyyah

48. Terarah

49. Kebaktian

50. Bersih

51. Malu

52. Ekonomis

53. Santai

54. Mudah

55. Afiat

56. Teguh

57. Jauh ke Depan

58. Mantap

59. Bahagia

60. Taubat

61. Takut

62. Doa

63. Cekatan

64. Gembira

65. Bersatu

66. Dermawan

67. Khusyu’

68. Ju jur

69. lstiqfar

70. Cerdas

71. Aktif (nasyâth)

72. Suka (farah)

73. Menyatukan(ulfah)

74. Dermawan (sakhâ`)

75. Kedudukan (waqâr)

Tentara Jahil

1. Kejahatan (menteri jahil yang pertama)

2. Kufur

3. Bohong

4. Kemunafikan

5. Putus-asa

6. Lalim

7. Murka

8. Ingkar

9. Putus-ikhtiar

10. Obsesif

11. Berhati-keras

12. Bodoh

13. Ceroboh

14. Hasrat

15. Watak yang kasar

16. Gegabah

17. Takabur

18. Tergesa-gesa

19. Tolol

20. Banyak Cincong

21. Bandel

22. Menolak

23. Dengki

24. Kasar

25. Syak

26. Cemas

27. Dendam

28. Fakir

29. Lalai

30. Lupa

31. Pemutus

32. Rakus

33. Tertutup

34. Permusuhan

35. Khianat

36. Maksiat

37. Pembangkang

38. Celaka

39. Dungu

40. Penyangkalan

41. Cela

42. Sakit

43. Menyebarkan

44. Biadab

45. Palsu

46. Munkar

47. Mengobral Omongan

48. Bablas

49. Onar

50. Kotor

51. Porno

52. Boros

53. Lelah

54. Sulit

55. Kemelut

56. Gamang

57. Cetek

58. Ringan

59. Sengsara

60. Berpaling

61. Meremehkan

62. Congkak

63. Lamban

64. Sedih

65. Berpecah belah

66. Kikir

67. Angkuh ('ujub)

68. Bohong

69. Tertipu-diri

70. Dungu

71. Malas (kasal)

72. Duka (huzn)

73. Memecah-belah (furgah)

74. Kikir (bukhl)

75. Ketersembunyian

Wahai Hisyâm, perangai-perangai ini tidak akan bisa terkumpul secara sempurna kecuali pada nabi, washy atau seorang mukmin yang hatinya telah lulus ujian Allah.

Selain mereka, hanya bisa memiliki sebagian dari ten tara akal dan tidak bisa sempurna. Bila dia sudah lebih dahulu bisa membersihkan diri dari tentara-tentara kejahilan, maka dia menjadi sederajat dengan para nabi dan washiy”.

Kesemua itu dapat dimengerti dan dicapai setelah mengenal akal dan tentaranya. Mudah-mudahan Allah SWT memberi taufik kepada kita semua untuk mentaati dan men dapat ridha-Nya.

Sumber : http://www.al-shia.org/html/id/books/hawa-nafs/02.htm

Posting Komentar

0 Komentar