Sengketa Thailand-Kamboja, Indonesia 'ditendang'

2011021493836_THAILAND2.jpg

HarianJogja-

JAKARTA: Aura Indonesia di Asean semakin meluntur setelah Perdana Menteri Thailand Abhisit Vejjajiva menolak keterlibatan mediasi dalam penyelesaian sengketa perbatasan dengan Kamboja.

Seperti dikutip dari The Nation, Abhisit memilih untuk melakukan pembicaraan bilateral dibandingkan dengan keterlibatan mediator yang secara tradisi dilakukan oleh Ketua Asean yang saat ini dijabat oleh Indonesia.

ASEAN yang dibentuk pada 1967 beranggotakan Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam. Sebelumnya, posisi ketua Asean telah dijabat Indonesia pada 1976 dan 2003.

Dalam pidato mingguan di televisi kemarin, Abhisit mengatakan Thailand yakin akan menunjukkan kemampuan mereka pada pertemuan Dewan Keamanan PBB di New York hari ini.

Menteri Luar Negeri Thailand Kasit Piromya dan Menlu Kamboja Hor Namhong akan menyajikan kasus-kasus negara mereka kepada 15 anggota Dewan Keamanan PBB.

Bentrokan kedua negara terjadi di sebuah wilayah sengketa yang berdekatan dengan kuil Preah Praeh, sebuah kuil Hindu yang dibangun pada abad ke-11. Bentrokan pada 4 hingga 7 Februari tersebut menewaskan delapan orang dan memaksa lebih dari 20.000 orang mengungsi.

Phnom Penh secara resmi tidak akan menghadiri pertemuan terjadwal dari Joint Border Community antara Thailand-Kamboja yang seharusnya digelar akhir bulan ini.

Abhisit menuding keputusan Kamboja untuk memboikot pertemuan itu tak mengherankan karena berusaha untuk melibatkan pihak ketiga.(Bisnis Indonesia/JIBI/Algooth Putranto)

Foto Ilustrasi

Posting Komentar

0 Komentar