Saka Wana Bakti Latihan Penanggulangan Kebakaran dan Pengunaan Tungku Hemat Bahan Bakar

“Kalau Bahan Bakar Minyak naik saya khawatir akan berpengaruh terhadap kelestarian hutan, karena dengan mahalnya BBM tersebut tentu saja masyarakat akan mencari kayu untuk dijadikan bahan bakar, bahkan sekarang saja sudah banyak tunggak-tunggak yang dijadikan arang untuk bahan bakar”


 Demikian lontaran kalimat yang berasal dari salah satu anggota Saka Wanabakti Pangkalan Khusus Randublatung pada saat dilakukan pelatihan penanggulangan kebakaran dan pengunaan tungku hemat bahan bakar bagi generasi muda terkait dengan naiknya harga bahan bakar minyak yang dipusatkan di KPH Randublatung yang diikuti oleh 75 peserta terdiri dari pangkalan Randublatung, Telawa , Gundih, Purwodadi, Semarang, Salatiga, Banyumas Timur, Cepu dan Blora belum lama ini. Kekawatiran tersebut tentunya juga terus menggulir pada peserta lain namun mereka rupanya agak merasa kurang PD jika akan mengeluarkan kata hatinya, maklumlah karena mereka baru saja berkumpul dengan teman-teman lain dan belum sempat berkenalan, jadi ada semacam sekat pergaulan yang belum tersibak dan masih terasa formal. Acara tersebut memang dikemas secara agak formal namun tanpa mengurangi rasa keakraban antar peserta sehingga harapan dari Perhutani untuk mengajak generasi muda belajar sambil bekerja yang dilakukan melalui Saka Wanabakti akan cepat terserap didalam pola pikir para remaja.

Membuka acara tersebut Administratur Perhutani KPH Randublatung Kak Ir. Hari Priyanto, MSc. selaku pimpinan Saka Wanabakti Pangkalan Khusus Randublatung yang hadir bersama dengan Pengurus Daerah Saka Wanabhakti Jawa Tengah Kak Dadang Ishardiyanto berpesan kepada para peserta bahwa keberadaan Saka Wanabakti untuk saat ini masih dan perlu untuk tetap dijaga, karena melalui pramuka para remaja akan dididik dengan ilmu-ilmu serta berbagai keterampilan, baik mengenai bidang kehutanan, sosial maupun kemasyarakatan sebagai bekal untuk menyongsong hari depan, “Anggota Saka Wanabakti diharapkan bisa memberikan contoh yang baik bagi masyarakat sekitarnya untuk lebih bisa mencintai lingkungan dan mencintai hutan, karena dengan cinta terhadap hutan andaikan ada kerusakan hutan yang diakibatkan oleh kebakaran hutan ataupun akibat lain yang mengarah pada kerusakan hutan akan bisa terminimalkan” Kata Kak hari dalam menyampaikan pesannya kepada peserta pelatihan tersebut. Lebih lanjut dikatakan bahwa dengan adanya sistim Pengelolaan Hutan Lestari yang dilakukan oleh Perhutani, kelestarian hutan akan menjadi tujuan pokok karena akan ditopang dari masalah kelola social, kelola lingkungan serta kelola produksi. Jadi dengan adanya pelatihan penanggulangan kebakaran serta penggunaan tungku hemat bahan bakar tersebut diharapkan akan bisa membantu meringankan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan kayu bakar yang diambil dari hutan.

 Sesuai dengan materi pokok yang telah diagendakan dalam pelatihan tersebut dibagi menjadi dua sesi yaitu sesi pengenalan dan pembuatan tungku hemat bahan bakar yang diberikan secara teori dan dilanjutkan dengan praktek di desa Medalem Kecamatan Kradenan, serta materi pemadaman kebakaran yang dipandu langsung oleh Petugas dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi Jawa Tengah dengan Bigade Mahesa Agni yang lokasi prakteknya dilakukan di Petak 114 RPH Kedungjambu, BKPH Kedungjambu KPH Randublatung. Menariknya dalam praktek simulasi kebakaran hutan tersebut selain anggota Pramuka juga dilibatkan unsur dari LMDH, Polter serta Linmas Perhutani KPH Randublatung dibawah bimbingan petugas dari Brigade Mahesa Agni.

Sumber : www.kphrandublatung.perumperhutani.com

Posting Komentar

0 Komentar