Pacaran Islami, Yang Bener Aja!

[tanggapan atas tulisan yang dimuat dalam fauzansa.wordpress.com]

Dari judulnya saja pasti sudah bisa diketahui saya berada pada pihak yang berbeda dengan isi tulisan tersebut. Saya rasa, penulis adalah orang sangat rasional dan mementingkan logika. Ya, mungkin saya memang tidak memiliki argumen yang se-ilmiah dia, tapi dengan mengeluarkan pikiran yang ada diotak saya dan bisa berbagi pengalaman dengan teman-teman, tentu bukan sesuatu yang merugikan.

Dalam tulisannya penulis mengemukakan argumen yang membawa kita pada kisah-kisah sahabiah (sayang saat saya menulis ini, saya lupa membawa kopian tulisannya). Penulis mengatakan tidak adanya hadis yang menyatakan bahwa pacaran dilarang secara tegas, sebagai pijakan untuk mengatakan bahwa pacaran bersifat netral. Afwan, saya tidak sedang menganalisa tulisan, jadi mungkin apa yang disampaikan tidak menanggapi poin per poin dari tulisan itu.

Yang saya catat adalah penulis lupa bahwa larangan ber-’pacaran’, selama ini diidentikkan dengan mendekati zina, karena lebih dari satu dua hal yang telah dibantah dalam tulisannya. Secara tegas, Rasullullah telah menyebutkan bahwa manusia pasti akan terbawa ke dalam zina (kecil); zina hati, zina mata, zina telinga, zina kaki. Ini terjadi karena sifat fitrah manusia yang memiliki kecenderungan terhadap lawan jenis. Saat seseorang membiarkan zina-zina kecil bertebaran, bukan tidak mungkin dia akan menganggap remeh terjadinya zina yang sesungguhnya (amargo wis kulino).

Kemudian lebih ekstrim lagi Allah telah melarang kaum muslimin untuk berikhtilat, bercampur baur antara kaum pria dan wanita, meski untuk tujuan yang jelas, misalnya belajar. Apalagi khalwat yang jelas-jelas hanya berdua. Disini saya beranggapan khalwat bukan sekedar berdua di taman yang sepi atau di rumah kosong. Rame-rame, di halaman masjid, kalau berpasang-pasangan tidak ada bedanya, bukan?

Diluar itu sebagai seorang muslim yang sadar diri (insya Allah, kabulkan ya Rabb…) dan cukup paham terhadap Ad-Dien, ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan sebagai mana generasi salafy telah melakukannya (kok jadi seperti tips ya, nggak papalah, saya belum menemukan kalimat yang lebih pas), misalnya tidak berlebihan dalam melakukan sesuatu yang mubah, karena hal itu dapat memperkeruh hati (misalnya mendengarkan musik, rihlah). Apalagi melakukan sesuatu yang subhat, (bagi saya, dalam tulisan tersebut kita diposisikan sebagai seorang yang berada di persimpangan jalan alias ragu-ragu), karena hal yang subhat lebih dekat kepada haram.

Saat membaca tulisan itu, sungguh menurut saya kacau sekali sebenarnya. Meski menggunakan bahasa yang runtut, kisah-kisah yang kasat mata, argumen yang panjang, tetap tercermin ada banyak sisi-sisi lain yang belum diketahui oleh penulis. Semoga bukan karena kita berusaha memandangnya dengan satu frame saja. Semoga bukan karena kita terpengaruh oleh provokator teman-teman Islam Liberal, tetapi ikhlas diniatkan untuk keridhaan Allah semata.

Saya percaya, frens fillah yang merasa bangga sebagai seorang muslim, tidak akan mengambil resiko konyol terpeleset pada hal yang bukan haq. Mudah-mudahan Allah membuka hati kita untuk terus mencari kebenaran. Semoga dengan upaya kita untuk menjaga pandangan, Allah akan mengkeruniai dengan manisnya iman.

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(QS. Al-Ahzab : 36 )

Sumber : http://syifa.wordpress.com/2005/12/10/pacaran-islami-yang-bener-aja/

Posting Komentar

0 Komentar