Kepimpinan, Amanah Akan Dipersoakan Akhirat Kelak

Apabila kita memperkatakan berkenaan soal kepimpinan sebagai amanah, maka tidak dapat tidak kita harus memperkatakan berkenaan amanah pertama yang diamanahkan oleh Allah SWT kepada manusia di muka bumi ini yaitu sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur'an:

Firman Allah ta'ala yang bermaksud :
"Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya dan dipikulnya amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia amat zalim dan amat jahil." (Al-Ahzab : ayat 72 ).

Di dalam ayat di atas jelas menunjukkan kepada kita bahwa sesuatu tanggungjawab yang ditaklifkan adalah sesuatu beban yang berat sehingga tidak mampu dipikul oleh makhluk lain melainkan manusia yang sesuai dengan sifat mereka yang amat zalim dan jahil. Di samping itu juga, tanggungjawab terletak pada semua manusia, tidak kira sama ada pada lelaki atau pun perempuan karena Nabi bersabda :

"Setiap seorang dari kamu adalah pengawal (pemimpin) yang bertanggungjawab terhadap rakyatnya (orang di bawah peliharaannya). Seorang lelaki adalah sebagai pelindung kepada ahli rumahnya dan bertanggungjawab terhadap tanggungannya. Perempuan di rumah suaminya adalah penjaga dan bertanggungjawab terhadap tanggungannya, begitu juga seorang khadam pemelihara harta tuannya dan bertanggungjawab terhadap jagaan di bawahnya." ( Al-Bukhari )

Dalam ayat dan hadis yang telah dibacakan tadi menerangkan kepada kita bahwa tanggungjawab yang dipikul bukan saja terletak pada pihak tertentu, bahkan terletak pada semua manusia. Lainnya menjadi satu tugas daripada Allah ta'ala kepada hamba-Nya. Beban ini menjadi tanggungjawab sepanjang kehidupan kita bermula kita baligh sehingga Allah ta'ala menarik kembali tanggungjawab tersebut. Pengtaklifan yang dianugerahkan ini adalah untuk menguji hamba-Nya, sejauh mana hamba-Nya beriman dan kepercayaan terhadap-Nya. Karena kadang-kadang manusia mengaku beriman sedangkan mereka masih belum diuji oleh Allah ta'ala.

Apabila kita menyebut tanggungjawab, lainya adalah amanah daripada Allah ta'ala, berbagai amanah yang akan dipikul oleh manusia ketika mana hidup di dunia Allah ta'ala ini. Amanah akan wujud di manapun tempatnya, tidak diperingkat sekolah, keluarga, masyarakat kampung, negeri atau pun negara. Setiap amanah ini akan menjadi persoalan di sisi Allah ta'ala, karena manusia tidak dapat lari dari memikul sebarang amanah dari Allah ta'ala.

Pemimpin diperingkat organisasi sekolah atau universiti, amat diperlukan karena ia berfungsi melatih para pelajar mengenal dunia kepimpinan dan belajar memimpin sekelompok masyarakat yang memerlukan kepada pendorong dan pertolongan daripada seorang pemimpinnya. Organisasi diperingkat sekolah atau universiti mengajar kita arti kehidupan sebenar di dunia ini.

Banyak cobaan dan dugaan yang sedang menanti kita. Di dalam organisasi inilah mengajarkan kepada kita cara untuk menangani sesuatu masalah yang ditimpa, disamping itu juga ia akan lebih mematangkan kita, karena masalah yang kita hadapi mengajar kita sifat bersabar dan membuat kita mampu untuk menangani masalah dengan genius.

Apabila terlibat dengan persatuan, kita tidak akan terlepas daripada menghadapi sebarang kemungkinan masalah. Masalah yang dihadapi datang daripada berbagai sudut, sama ada datang daripada diri sendiri mau pun masyarakat bawahan kita. Ini adalah ujian dan dugaan yang tidak dapat tidak mesti dihadapi oleh seorang yang bergelar pemimpin.

Tugas menjadi pimpinan ini adalah pengtaklifan daripada Allah ta'ala. Allah ta'ala telah menentukannya, walaupun kadang-kadang kita tidak menyangka bahwa tugas ini akan kita pikul, akan tetapi ia sudah ditetapkan di "Maqadir". Sesungguhnya Allah ta'ala tidak akan mengtaklifkan kepada mereka yang tidak mampu untuk memikul amanah ini, bahkan Allah ta'ala akan mengtaklifkan kepada mereka yang mampu dan layak untuk memikulnya.

Di dalam urusan melantik pemegang jabatan-jabatan sebagai amanah yang dipertanggungjawabkan adalah sabit dari beberapa buah hadis:

Daripada Abu Zarr katanya : "Suatu hari saya berkata kepada Rasulullah : tidakkah junjungan bercadang melantik saya?"Jawabnya sambil meletakkan tangannya ke atas bahuku : Wahai Abu Zarr, sebenarnya engkau seorang yang lemah, sedangkan jabatan itu suatu amanah. Di hari kiamat dia akan membawa malu dan penyesalan kecuali orang yang mempunyai kemampuan dan menyempurnakan tanggungjawab dengan sempurna." (Muslim)

Kemampuan ilmiah dan amaliah bukannya terletak pada semua manusia, bahkan ia terletak pada setengah manusia yang dipilih oleh Allah ta'ala. Mereka yang mempunyai iman yang kuat, baik akhlaknya dan mulia akan tetapi tidak mempunyai kelayakan untuk memegang jabatan-jabatan dan menjalani tugas dengan sempurna.

Sebagaimana yang berlaku ke atas nabi Yusuf a.s, baginda menawarkan diri bagi menguruskan hal ehwal kewangan negara Mesir, bukannya di atas sebab kenabian dan ketakwaan baginda bahkan di atas kemampuan baginda mengawal dan menguruskan hal ehwal kewangan.

Firman Allah ta'ala yang menceritakan kata-kata nabi Yusuf kepada raja Mesir yang bermaksud :

"Lantiklah saya mentadbir khazanah negara karena saya boleh mengawal dan mempunyai pengetahuan" (Surah Yusuf : ayat 55)

Jelas kepada kita bahwa tugas memimpin masyarakat umumnya telah terletak pada semua manusia. Ada di kalangan mereka yang Allah ta'ala mengtaklifkan menjaga keluarga saja dan berbagai lagi amanah lain. Akan tetapi tugas menjaga keluarga, seperti kelazimannya terletak pada kaum lelaki. Karena kaum lelaki yang mendirikan rumah tangga tidak dapat tidak akan menerima tanggungjawab daripada Allah ta'ala.

Tanggungjawab terhadap istri, tanggungjawab terhadap anak-anak dan seluruhnya. Sesuatu yang berlaku ke atas keluarga, kaum lelakilah yang akan dipersoalkan oleh Allah ta'ala pada hari kiamat kelak. Apa yang kita lihat ini adalah tanggungjawab diperingkat keluarga, dan kepada mereka yang mempunyai tanggungjawab dan amanah diperingkat yang lebih tinggi bagaimana pula?

Mereka ini mempunyai tanggungjawab yang lebih besar. Setelah diuji dengan memikul tanggungjawab berkeluarga, mereka juga diuji dengan memikul tanggungjawab untuk masyarakat sama ada kampung, negeri dan negara. Sebab itu, pengtaklifan daripada Allah ta'ala hanyalah kepada mereka yang mampu saja dalam menguruskan tugas-tugas pemegang jabatan-jabatan.

Amanah berkehendakkan kepada sebaik-baik dan selayak-layak calon untuk memegang sesuatu jabatan. Seandainya kita mengetepikan syarat-syarat ini, karena pilih kasih dan karena hubungan kaum kerabat, niscaya kita melakukan perbuatan yang tercela. Sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud :

"Barang siapa melantik seorang untuk mengetuai suatu kumpulan sedangkan ada seorang lain yang lebih berhak dan layak daripada nya di sisi Allah ta'ala (mempunyai sifat-sifat yang diredhai Allah) sesungguhnya ia telah mengkhianati Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin seluruhnya."

Sabda Rasulullah s.a.w lagi yang bermaksud :-

"Barang siapa yang memegang satu-satu kuasa atau urusan orang Islam kemudian ia melantik seorang ketua ke atas mereka berdasarkan pilih kasih maka balasannya ialah laknat Allah, tidak diterima sebarang galang ganti baginya sehingga dimasukkan dia ke dalam neraka jahanam."

Sesungguhnya tanggungjawab dan amanah yang dipikul sebagai seorang pemimpin kelompok masyarakat yang besar telah ditugaskan kepada mereka yang mampu dan layak di sisi Allah ta'ala saja. Ia sudah menjadi ketentuan daripada Allah ta'ala. Barang siapa yang ditaklifkan dengan tugas ini, maka secara langsung mereka mempunyai tugas yang amat besar dan setiap tugas mereka itu akan menjadi persoalan kepada Allah ta'ala.

Namun begitu, kita jangan lupa bahwa pemimpin memang diperlukan, karena pemimpin adalah penunjuk dan pembawa masyarakat bawahannya. Sekira mana masyarakat bawahannya berada di jalan yang salah maka pemimpinlah yang akan membantu mereka. Maka ganjaran yang amat besar di sisi Allah ta'ala jikalau pemimpin amanah dengan tugasnya dan ikhlas karena Allah ta'ala.

Ingatlah bahwa sifat amanah kepada seseorang amat penting, setiap amanah dan tanggungjawab yang kita pikul hendaklah dijaga dengan baik dan jangan menyerahkan amanah yang dipikulkan kepada kita, kepada mereka yang bukan selayaknya untuk memikul amanah tersebut. Karena sunnah Rasulullah s.a.w memperingatkan kepada kita bahwa yang demikian adalah menjadi tanda-tanda kerusakan yang akan timbul di akhir zaman.

Pada suatu hari datang seorang lelaki bertanyakan Rasulullah s.a.w :

"Bilakah akan berlaku kiamat?"Jawab Rasulullah : "Apabila sifat amanah telah hilang maka tunggulah kiamat." ujar orang itu :"Bagaimana cara ia dihilangkan?" Jawab Nabi : "Apabila sesuatu urusan itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya (tidak layak) maka tunggulah kiamat."

Maka setiap amanah yang ditaklifkan, laksanakanlah ia dengan baik. Lakukan dengan sedaya upaya, sekadar kemampuan yang dianugerahkan oleh Ilahi kepada kita. Setiap mereka yang bergelar pimpinan pasti akan ada manah dan ujian. Hadapilah ujian dengan ketenangan dan ketabahan yang dimiliki. Dan Allah ta'ala adalah sebaik-baik tempat untuk mengadu, kepada-Nya kita berserah dan kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Firman Allah ta'ala yang bermaksud :

"Supaya Allah ta'ala menyiksa orang-orang munafik lelaki dan perempuan, orang-orang musyrikin lelaki dan perempuan dan Allah ta'ala menerima taubat orang-orang mukminin lelaki dan perempuan. Allah ta'ala adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang"

Diambil dari : http://saifullah-hafsan.blogspot.com/2009/07/kepimpinan-amanah-akan-dipersoakan.html

Posting Komentar

0 Komentar